Tab-menu

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Gitar Tunggal dalam seni suku semende

Istilah Gitar Tunggal mungkin tidak banyak dikenal oleh orang-orang yang hobby memainkan gitar meskipun sebenarnya seseorang yang baru belajar gitar biasanya selalu memainkannya dengan sendirian saja begitu pula seseorang yang akan mengaransemen sebuah lagu tidak jarang dimulai dengan satu gitar saja, begitu pula pemain gitar klasik juga sering tampil dengan mempergunakan satu gitar yang disebut dengan solo guitar. 

Akan tetapi mereka tidak menyebutnya dengan gitar tunggal secara khusu karena biasanya setelah lagu tersebut jadi dan mereka akan tampil, musik yang mereka mainkan itu akan berkolaborasi dengan alat musik lainnya. Berbeda halnya dengan istilah Gitar Tunggal di sini ialah bentuk format jadinya atau hasil finalnya memang hanya mempergunakan hanya satu gitar saja dan dimainkan oleh satu orang saja. Namun begitu cukup lumayan dan enak untuk didengar. Saya adalah salah seorang yang menyenangi musik tradisionil ini. Musik tradisional khas suku Semende (maksud disini adalah suku-suku serumpun anak bukit barisan (istilah penulis) atau sering diistilahkan dengan Lagu Batang Hari Sembilan ini terdiri dari beberapa suku antara lain : Besemah, Lahat, Ogan, Pagar Alam, Lintang dan daerah yang memiliki kemiripan bahasa degan dealek "e" contoh kata = tebu)

Gitar Tunggal tidak lepas kaitannya dengan pembicaraan mengenai Sastra dan budaya daerah tersebut antara lain yang paling berhubungan adalah Sastra Lisan. Sastra lisan suku-suku tersebut antara lain : Guritan, Anda-andai, memuning, dan rejung (rejunk). Untuk tiga jenis sastra yang pertama, guritan, andai-andai dan memuning, biasanya tidak memakai media alat musik. Akan tetapi untuk jenis rejung dapat dilakukan tanpa alat musik atau mempergunakan alat musik. Alat musik yang dapat dipergunakan antara lain adalah Ramanika (Accordion), Piul (Violin), Gambus, ataupun Gitar Tunggal. Sementara alat musik yang lain seperti Suling (seruling), Seredam , dan Ginggung tidak dapat dipergunakan untuk megiringi tembang atau rejung dikarenakan ketiga alam musik tersebut adalah alat musik (sejenis alat musik tiup). 

Dari sekian alat musik yang dapat mengiringi tembang hanya guitarlah yang paling menonjol dikarenakan berkemungkinan dalam mempelajarinya tidak terlalu sulit bila dibandingkan dengan alat-alat yang lainnya. Gitar tunggal merupakan alat musik yang terbilang baru dipergunakan oleh suku Semende dan tidak seberapa banyak lagu yang dapat dimainkan dengan alat musik ini beberapa lagu itu antara lain : Lagu Ude Nak Ude, Lagu Ujan Angin, Tebah Ndung Ci'an dan beberapa lagu lagi, akan tetapi tidak banyak, berbeda halnya dengan lagu-lagu dari daerah Lematang yang dipopulerkan oleh Kak Zainuddin sejak tahun enam puluh-an seperti : lagu Ribu-Ribu, lagu Antan Delapan, Lagu Merantau Jauh, Lagu Segindang-Gindang, lagu Erai-Erai, dan lagu-lagu lainnya yang bibawakannya dengan amat sempurna. Begitu pula Lagu daerah Kikim seperti Lagu Cik Minah dikemasnya menjadi lagu Mas Mirah. Penulis berpendapat hampir seluruh lagu yang pernah dimainkannya dapat dikatakan mendekati sempurna ia benar-benar seorang maestro untuk bidang ini kalau tidak dapat dikatakan melegenda. Begitu pula lagu gitar tunggal dari daerah lainnya, seperti : Untuk daerah Kikim dikenal pegitartunggalnya antara lain Syafrin, Untuk daerah Ogan Sahilin, Denali, Malili, daerah Musi Rawas, dikenal nama Rusli Effendi, untuk daerah Lintang IV Lawang dikenal Han Sofian, dan M Rozi, daerah Pagar Alam dikenal nama seperti Isran AR, dari Besemah dikenal nama seperti Waya, begitu pula halnya dengan daerah-daerah lainnya, masing-masing mereka yang tersebut di atas memiliki album lebih dari sepuluh album banyaknya yang diprakarsai oleh Palapa Record yang dimulai sejak awal tahun 70-an sampai dengan penghujung tahun 80-an. Sementara itu untuk daerah Semende sendiri tidak begitu dikenal pegitartunggalnya kalau boleh dibilang hanya beberapa orang diantaranya ialah Effendi dan Junaidi Daulay, yang dalam rekamannya biasanya sudah memuat juga cara-cara petikan dari Lematang atau daerah lainnya.

Tembang
Tembang dimaksud di sini adalah sya'ir yang didendangkan oleh penyanyi yang disebut dengan penembang. Biasanya tembang tersebut tidak sebagaimana yang dilantunkan oleh penyanyi-penyanyi dunia yang memiliki alur sebuah cerita, melainkan ia merupakan beberapa buah pantun untuk sebuah lagunya biasanya berkisar antara 6 s/d 20 pantun pertebahnya (perlagu) dengan durasi sekitar 15 sampai dengan 30 menit untuk satu tebahnya. Sebagaimana pantun pada umumnya yaitu terdiri dari empat baris bersajak ab ab, dua baris pertama sebagai sampiran dan dua baris berikutnya adalah isi dari pantun tersebut.

Steeman Gitar
Karena permainan Gitar Tunggal umumnya tidak bersama-sama dengan alat musik lainnya maka dalam steemannya didapati beberapa jenis steeman sepengetahuan penulis diapati sebanyak lebih dari enam jenis steeman guitar. Maka tidaklah heran bila ada yang berkomentar pemain Gitar Tunggal itu memainkan gitar yang salah steeman, tentu saja bila ia melihatnya dari sudut steeman musik pada umumnya. Jenis steeman ini tiada lain gunanya agar supaya sebuah tebah (lagu) itu dapat dimainkan dengan mudah. Biasanya satu steeman dapat dibawakan beberapa tebah, lalu untuk tebah yang lainnya mempergunakan steeman yang lain pula.

Itulah sekelumit kisah tentang Gitar Tunggal, dan beberapa hal yang berkaitan dengannya, namun sekarang sayangnya lagu-lagu tersebut semakin hari semakin ditinggalkan oleh generasi penerus suku semende dan suku lainnya dan mulai tergeser oleh lagu-lagu dan budaya yang lain sehingga tidak banyak lagi yang meminatinya apalagi menguasainya, berkemungkinan besar nantinya akan hilang sama sekali, dan tidak akan dikenal lagi oleh beberapa generasi yang akan datang.
Sumber : gitartunggal.blogspot.com

Rejung atau tembang dalam seni budaya

Rejung atau tembang ini dalam sebuah silogisme kemudian sering disebut dengan irama Batang Hari Sembilan. Pengambilan nama Batang Hari Sembilan itu sebenarnya mengikut ke pada adanya 9 anak sungai Musi. Sungai Musi merupakan sungai terbesar di daerah ini yang membelah kota Palembang menjadi dua bagian. Sebutan Batanghari Sembilan, suatu istilah "tradisional" untuk menyebut sembilan buah sungai besar yang merupakan anak Sungai Musi, yakni : Klingi, Bliti, Lakitan, Rawas, Rupit, Batang, Leko, Ogan, dan Komering.

Namun sekarang ini jarang yang mengetahui terminologis ini karena istilah tersebut selalu dikaitkan dengan lagu-lagu yang ada di kaset produksi Palapa Record yang memuat lagu-lagu daerah yang sebagian besarnya diiringi oleh gitar.

Kembalike pada alat yang dipergunakan untuk mengiringi tembang, di masa lalu masyarakat memiliki alat-alat musik tradisional seperti Serdam, Ginggung, Suling, Gambus, Berdah dan Gong alat tersebutlah yang mengikuti rejung atau tembang atau adakalanya mereka melantunkan tembang tanpa alat dan tanpa syair “meringit”. Selain ini adalagi sastra lisan seperti guritan, andai-andai, memuning dan lain-lain saat ini sudah langka yang dapat melakukannya. Dengan kemajuan yang dilalui, masyarakatnya berinteraksi dengan peralatan moderen, menyebabkan alat tradisional tersebut bertambah atau berganti alat-alat baru seperti Accordion (ramanika), Biola (piul) dan Guitar (itar). Sejak tahun enam puluh-an didominasi oleh Gitar Tunggal ( hanya mempergunakan dan hanya satu gitar saja ) untuk mengiringi tembang, Tembang tersebut biasanya hanyalah berupa pantun empat kerat bersajak a-b a-b.

Tembang atau rejung itu memiliki nuansa estetik natural dalam arti membawakan suara alam semesta yang pada dasarnya jarang orang tidak dapat mengappresiasinya. Nuansa estetik natural ini tidak hanya sekedar memenuhi konsumsi pemikiran enerjik melainkan lebih kepada unsur qalbu sentimental. Jiwa insaniah yang terdalam dapat diraih maka terkadang tidak mengherankan jika unsur pemikirian tidak terlalu dominan sehingga dapat memberi celah hidup dalam hati, di situlah letak dari tembang ini. Tentu saja sasarannya adalah manusia yang masih hidup secara batiniahnya. Sebab jika kita mau mendengar perkataan Rasulullah saw bahwasanya ; “banyak didapati manusia yang mati sebelum mati”.

Sumber : Dari Beberapa sumber yang di sadur

Kearifan dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Suku semende (Tulisan 2)

Proses pembukaan hutan dan pemanfaatan lahan dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditentukan secara adat. Pembukaan hutan dan pemanfaatan lahan diawali dengan mencari hutan yang memenuhi persyaratan.

Pertama, lokasinya tidak jauh dari sungai yang besar. Hal ini sesuai dengan kebiasaan bahwa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak perlu membeli, seperti pemenuhan kebutuhan ikan. Itulah sebabnya orang Sumende selalu berusaha untuk memperhatikan kelestarian lingkungan sehingga debit air sungai tidak menurun. Stabilnya debit air ini memunculkan suatu mitos, yaitu tabu mengatakan “ada sumur kering”. Apabila ada sumur kering, maka masyarakat berpikiran akan terjadi suatu bencana. Mitos ini menjadi pedoman hidup orang Sumende untuk memperhatikan kelestarian lingkungan. Dalam pengelolaan sumber daya alam digunakan cara-cara yang arif agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan yang akhirnya mengakibatkan sumur menjadi kering.

Kedua, lahan dengan jenis tanah hitam yang banyak mengandung humus. Tanah yang berwarna keputih-putihan dan berpasir (regosol) dihindari karena merupakan jenis tanah yang tidak subur.

Ketiga, posisi lahan miring ke arah matahari terbit sehingga lebih cepat mendapatkan sinar matahari di pagi hari, sedangkan di siang dan sore hari tidak lagi disinari matahari sehingga tidak menyebabkan petani cepat kelelahan. Lahan yang juga memenuhi syarat, adalah: Lahan datar yang menghadap matahari; Agak bergembang (karena kumpulan humus); Lahan datar di bawah bukit (tulang pematang); serta Lahan yang tidak langsung terkena panas. Meskipun demikian, orang Sumende menghindari pembukaan hutan yang kemiringannya sangat tajam karena akan menimbulkan terjadinya erosi.

Keempat, hutan ditumbuhi pohon yang besar seperti pohon ndelong dan meranti. Hal ini didasarkan atas pemikiran bahwa tumbuhnya pohon yang besar berarti memiliki akar yang dalam (panjang), dan ini pertanda unsur tanahnya tidak berbatu (cadas). Sehingga diperkirakan kesuburan tanah tidak hanya ada dipermukaan saja. Secara tradisional, lahan yang diyakini subur adalah yang ditumbuhi jenis tumbuhan tertentu, yaitu pohon kayu yang lembut (tenam, arah, kalup/meranti, marsawa, makasar, merambung) yang biasanya tumbuh di atas pematang, pepiu/cecabi dan lengkenai yang tumbuh di bawah pohon-pohon besar. Sedangkan semak dan belukar merupakan tanda bahwa lahan tersebut kurang subur. Melalui pengetahuan pemilihan lahan seperti ini menyebabkan orang Sumendo sangat terikat pada hutan dan tidak sembarangan membuka hutan. Setelah lahan yang memenuhi syarat diperoleh maka dilakukan pengukuran dan pembagian hutan sesuai dengan banyaknya anggota kelompok yang akan bersama-sama membuka hutan. Setelah tercapai kesepakatan tentang luas hutan yang akan dibuka, barulah pembukaan hutan dimulai. Pembukaan hutan tidak dapat dilakukan begitu saja melainkan ada aturannya. Pada masa pemerintahan Marga, membuka lahan harus seijin Pasirah untuk memperoleh Surat Pancung Alas. Selain ijin secara formal, juga ada tidak formal dengan meminta ijin kepada penghuni hutan yang di dalam bahasa daerahnya disebut bebesut. Bebesut dilakukan dengan cara membawa sedekah (biasanya memotong ayam) di atas lahan yang akan dibuka, membaca surat Al-Fatihah, dan diakhiri dengan makan bersama. Jadi bukan sedekah lepas yaitu dengan menaruh sedekah di lahan yang dituju. Apabila ijin telah diperoleh, barulah Kepala Tebang memulai pembukaan hutan. Hutan dibuka dengan terlebih dahulu memotong ranting dan dahan pohon yang besar, setelah itu dilakukan penebangan batang pohon. Tujuannya adalah agar ketika batang ditebang dan roboh, tidak akan mengenai pohon-pohon yang kecil yang ada di sekitarnya. Biasanya pohon-pohon kecil yang ada tidak semua ditebang. Pohon-pohon yang masih kecil ini akan bermanfaat untuk mempertahankan kesuburan tanah, mencegah erosi, dan mempercepat kembalinya kesuburan tanah ketika lahan tersebut diistirahatkan (bero). Jenis pohon biasanya disisakan atau tidak ditebang adalah pohon ndelong. Pohon ini terkenal cepat besar, sehingga lahan akan cepat menghutan. Penebangan dilakukan pada musim panas sehingga pohon yang telah tumbang dapat mengering, untuk selanjutnya dibakar. Untuk mempercepat pembakaran, cabang-cabang pohon dipotong-potong, ditumpuk dan dibiarkan kering oleh panas matahari. Pembakaran dilakukan untuk membersihkan daun-daun, ranting, cabang, dan sebagian batang, agar dapat dilakukan penanaman. Hasil yang diperoleh dari pembukaan hutan oleh orang Sumende bukan lahan yang bersih dari pepohonan.

Penebangan hutan biasanya dilakukan pada bulan April-Mei (musim panas). Pada bulan Juli dan Agustus dilakukan pembakaran dan pada bulan oktober dilakukan penanaman padi. Padi mulai ditanam ketika mulai tampak bintang Waluku. Padi yang ditanam adalah padi varietas lokal jenis tambun yang tingginya mencapai satu meter dan umurnya mencapai enam bulan. Setelah dua kali ditanami padi, maka untuk menjaga kesuburan tanah, lahan ditanami dengan tanaman lain seperti kopi. Ketika padi belum berbunga, di sela-sela tanaman padi ditanami kopi. Cara penanaman kopi seperti itu akan menyebabkan tanaman kopi bertahan hidup karena memperoleh embun dari tanaman padi, dan ketika padi sudah mulai di panen akar kopi sudah menguat. Orang-orang Sumende hanya sekali memanfaatkan lahan untuk ditanami padi, selebihnya lahan dijadikan kebun kopi. Sebelum kopi berumur 2 tahun, di sela-sela tanaman kopi ditanami palawija dan tanaman pembayang (pelindung) seperti dadap atau jengkol. Tanaman pembayang mulai ditanam ketika kopi mulai bercabang untuk pertama kalinya. Setelah berumur 2 tahun, kopi mulai berbunga perdana. Setelah hasil kopi mulai menurun, lahan tersebut ditinggalkan untuk diistirahatkan (bero). Biasanya dalam waktu 2-3 tahun lahan tersebut akan menghutan kembali karena dengan jenis pepohonan yang disisakan untuk tidak ditebang yaitu pohon ndelong, maka lahan cepatmenghutan kembali dan siap dibuka lagi.

Tata cara pembukaan hutan seperti ini kondusif bagi kelestarian hutan. Hanya saja tatacara ini sudah banyak ditinggalkan, salah satunya dipengaruhi digantikannya peran lembaga adat dengan lembaga formal (birokrasi pemerintah) untuk pembukaan hutan. Akibatnya keterikatan masyarakat Sumende terhadap nilai-nilai yang selama ini mengatur perilaku untuk membuka hutan mulai memudar.

Lokasi wisata pantai Linau kabupaten Kaur

Pantai Linau terletak di Kecamatan Maje Kabupaten Kaur Propinsi Bengkulu, pantai ini sudah lama dikenal. Sejak dahulu kala pantai ini sering dijadikan tempat berlabuhnya berbagai kapal untuk mengangkut hasil hutan berupa kayu yang akan diekspor ke luar negeri.

Dermaga Linau sering dijadikan tempat pariwisata dan bersantai bersama orang terdekat, serta sering dijadikan wisata pancing (tempat memancing) ikan. Keindahan laut linau dengan warna laut yang biru menambah daya tarik pantai linau.

Selain pantai yang indah, desa Linau juga memiliki wisata sejarah berupa benteng peninggalan penjajah dan berbagai cerita rakyat lainnya di masa lampau. Desa Benteng Harapan Linau yang berbatasan desa Air Long juga telah dibangun tempat wisata yang terletak di bibir pantai di sepanjang jalan lintas Bengkulu-Lampung yang terdapat di desa Benteng Harapan Linau.
Sumber: Bintuhan dot Info