Tab-menu

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Hari Ulang Tahun Ku


Hari ini ada yang bertambah dan ada yang berkurang. Bertambah, ya saya bertambah tua. Berkurang, ya jatah umur saya di dunia ini semakin berkurang. Orang bilang “menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa adalah sebuah pilihan”. Sebenernya hari ini tidak ada yang spesial - bahkan terbilang sama - seperti hari - hari lainnya. Tetapi betapa kaget malam tadi tepat jam 12 wib tiba-tiba hpku berbunyi hingga bangunkan dari temapat tidur, pas saya lihat ada Ucapan ""Kakak ku tersayang....selamat Ulang Tahun ya...semoga kk Panjang Umur dan Mudah didapatkan Rezeki"" jujur kalu tidak ada yang menucapkan aku benar-beanr lupa bahwa malam itu pergantian Umurku.Orang yang menunggu waktu untuk mengucapkan ulang tahun itu tak lain adalah calon insriku yang tercinta....
Kembali saya merenung, apa saja yang sudah saya lakukan di tahun lalu dan apa yang akan saya lakukan di tahun depan. Hmm … baiklah, berikut ini adalah daftar yang harus saya lakukan di usia saya yang sudah semakin menanjak :
1. Menyelesaikan Kuliah
2. Menabung....
3. Bekerja...
4. Terus belajar. Ya, saya akan terus belajar, saya akan terus membaca buku, saya akan terus mencari ilmu dari siapapun
5. Mencari “tulang rusuk”. Saya jadi teringat kisah Nabi Adam AS dan Siti Hawa, setelah turun ke dunia mereka terpisah oleh benua yang berbeda, namun dengan izin Alloh swt, mereka dapat bertemu kembali. Itu zaman dulu, dimana belum ada peta, navigasi, komunikasi atau bahkan GPS. Tetapi hanya dengan izin Alloh swt. mereka dapat bertemu. Ya Alloh, pertemukanlah aku dengan jodoh yang telah engkau tetapkan.
6.Lebih mendekatkan diri kepada Alloh swt.
7. Bisa mengatur waktu.

Kearifan Lokal yang masih Bertahan

Mungkin hanya ini yang masih bertahan yang di pegang oleh masyarakat adat semende Ulu nasal yaitu dengan sebutan " PANGKU PALIARE" dimana setiap masyarakat pada tanggal 10 Muharam harus mengikuti Ritual ini dan setiap orang harus mengumpulkan 1 Ruas Lemang pada ketua adat, tujuan dari ini adalah untuk mendata seluruh masyarakat yang ada di desa ini. setelah lemang itu terkumpul kemudian dihitung bersama-sama.

Selain itu bertujuan untuk media berkumpul bersama-sama antar masyarakat di desa, dan membentuk silaturahmi....
mudah-mudahan penggalan cerita tidak jauh dari kesalahan.....

ini berikut sesajian yang dibacakan sebelum makan lemang bersama dan di samping merupakan tulisan Ka-ga-nga...ini menunjukan bahwa adat semende adalah suku tertua.
Tat kale bumi belum, langit belum ade dijadikah mangke ndike firman Allahku dan ta’ale, mengusik menggilang daki mangke ade bumi setuntung sengat. La ade bumi setuntung sengat mangke dibalik alam oleh ndike firman Allah dan ta’ale mangke disaut oleh Jibril mangke ade bumi sedepe lalat. La ade bumi sedepe lalat mangke dibalik alam oleh ndike firman Allah ku dan ta’ale mangke di saut oleh jibril mangke ade bumi setapak minring. La ade bumi setapak miring mangke ndike firman Allahku dan ta’ale menuduh damei bumi melinggan ndamei langit, ade langit sekencum payung. Mpai ade laut selibae pinggan mengembuskan napas, mangke ade angin mangke ade sir dengan hase.La ade bumi stapak miring dibalik alam oleh ndike firman Allah ku dan ta’ale mangke disaut oleh Jibril mangke ade bumi panjang sedepe.La ade bumi panjang sedepe dibalik alam oleh ndike firman Allah ku ta’ale disaut oleh Jibril mangke ade bumi panjang due.






KEARIFAN LOKAL SEBAGAI MODAL SOSIAL DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN

Setiap masyarkat yang berbeda geografisnya akan mengembangkan pranata-pranata dan kelembagaan yang sesuai dengan kondisi geografisnya masing-masing sebagai salah satu strategi adaptasi dalam berproduksi dan berproduksi. Olah karana itu, menemulenali unsur-unsur sosial budaya suatu masyarakat sanagt epnting dalam prisosnpemberdayaan dan pemabanguana bagi mereka. Mengiangat setiap masyarkat memliki potendi keswadyaaan sendiri-sendiri yang dilandasi oleh latr belakang sosisl budaya yangunikdankhsusus serta kondisi ekologi dan geografis yag berbeda-beda.(lihat Mubyarto, 1994).


Pentingnya budaya lokal dalam proses pembangunan juga dikemukakan oleh colletta (1987), ada tiga alasan pokok mengenai pemenfaatan unsur-unsur budaya lokal dalam melaksanakan pembangunan bagi masyarakat setempat. Pertama, unsur-unsur budaya lokal mempunyai legitimasi tradisional dimata masyarakat binaan yang menjadi sasaran program pemberdayaan dan pembangunan. Kedua, unsur-unsur budaya secara simbolis merupakan untuk komunikasi paling berharga dari penduduk setempat.ketiga,unsur-unsur budaya


mempunyai aneka ragam fungsi (baik yang terwujud maupun yang terpendam) yang sering menjadikannya sebagai sarana yang paling berguna untuk perubahan dibandingkan dengan yang tampak pada permukaan jika hanya dilihat dalam kaitan dengan fungsinya yang terwujud saja (lihat juga Dive, 1985).
Kearifan lokal (local wisdom) merupakan bagian dari sistem budaya, biasanya berupa larangan-larangan (tabu-tab) yang mengatur hubungan sosial maupun hubungan manusia dengan lingkungan Alamnya. Kearifan lokal berfungsi untuk menjaga kelestarian dan kesinambungan “aset” yang dimiliki suatu masyarakat sehingga masyarakat dapat terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya dari generasi kegenerasi berikutnya, tanpa harus merusak atau menghabiskan “aset” tersebut. Oleh sebab itu, kearifan lokal selalu dijadikan pedoman atau acuan oleh masyarakat dalam bertindak atau berperilaku dalam praksis kehidupannya. Hal ini merupakan wujud dari kesadaran trehadap hukum kausalitas(sebab-akibat) dan pemahaman terhadap hubungan yang bersifat simbiosis mtualis.

Setiap masyarakat akan mengembangkan kearifan lokal sesuai dengan kondisi lingkungan sosialnya maupun lingkungan alamnya serta sistem pengetahuan yang dimilikinya. Berikut beberapa contoh kearifan lokal yang terdapat pada beberapa etnis di Bengkulu, seperti: Eknik Rejang yang dikenal sejak nenek moyangnya dahulu merupakan masyarakat yang bersomisili di tepian hutan, telah mengembangkan kearifan lokal untuk menjaga kelestarian hutan, berupa zonasi hutan (imbo-lem/hutan dalam-imbo u’ai atau hutan muda – penggea imbo atau hutan pinggiran), aturan-aturan tentang penanaman dan penebangan kayu, serta tata cara pembukaan ladang (lihat tjahjono, dkk, 1999).

Sedangkan etnik Serawaiyang diokenal sebagai tipikal masyarakat peladang, telah mengembangkan kearifan lokal dalam pembukaan ladang sedemikian. Menurut penjelasan, semula asa sekitar 20 jenis pantangan yang disebut celako humo atau cacat humo ini, namun dalam perkembangandewasa hanya tinggal sekitar 7 jenis yang masih dipertahankan, yaitu: ulu tulung buntu, sepelancar perahu, kijang ngulangi tai, macan merunggu, sepit panggang, bapak menunggu anak, dan nunggu sangkup. Bagi suku bangsa Serawai alasan yang melatar belakangi tabu-tabu celako humo dipahami secara transendental dalam bentuk justification: bahwa siapa yang melanggar pantangan tersebut akan terkena penyakit atau hasil ladangnya akan gagal. Substansi norma-norma yang terkandung didalam celako humo selaain mengandung aturan-aturan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup (dimensi ekologis), juga mengandung etika sosial yang menempatkan sesorang pada kedudukan sosialnya. (lihat tjahjono,). Demikian pula pada etnik Enggano yang berdomisili di wilayah berekosistem pulau/pesisir mempunyai kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya hutan dan kelautan, seperti aturan cara penangkapan ikan, lola’ (keong laut), teripang dan pelestarian terumbu karang (lihat tjahjono, 1995).

Geografi Budaya Masyarakat Bengkulu

Secara historis-geografis di Bengkulu ini mempunyai etnis lokal, seperti: Bengkulu Melayu, Rejang, Serawai, Lembak, Kaur, Semende, Kaur Nasal, Pasemah, Enggano, Muko-muko dan Pekal. Disamping etnis lokal tersebut, sekarang ini penduduk Bengkulu sangat heterogen sebagai dampak dari migrasi penduduk dari luar Propinsi Bengkulu dan sebagai daerah penerima/tujuan program transmigrasi. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Bengkulu pada tahun 2006 sebanyak 1,6 juta jiwa, dengan tingkat kepadatan penduduk 83,33 jiwa/Km².


Propinsi Bengkulu terletak di antara 2° 17’ -- 3° 31’ Lintas Selatan dan 101° 01’ --103° 41’ Bujur Timur. Batas-batas wilaiyah Propinsi Bengkulu, yaitu: di sebelah Utara berbatasan dengan Propoinsi Sumatra barat, di sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia dan Propinsi Lampung, di sebelah Barat berbatasan dengan Samudra Indonesia di sebelah Timur berbatasan dengan Propinsi Jambi dan Propinsi Sumatra Selatan.


Luas wialayah Propinsi Bngkulu mencapai ±1.978.870 hektar atau 19.788,7 Kilometer persegi. Wilayah administrasi Propinsi Bengkulu memenjang dari perbatasan Propinsi Sumarta Barat sampai ke perbatasan Propinsi Lampung yang jaraknya ±567 kilometer. Bagian Timurnya berbukit-bukit dengan dataran tinggi yang subur, sedangkan bagian Barat merupakan dataran rendah yang relatif sempit, memanjang dari Utara ke Selatan serta diseling-selingi daerah yang bergelombang.

Topografi Propinsi Bengkulu dapat diklasifikasikanmenjadi: (a) low land, yaitu daerah yang berada pada ketinggian 0-100 di atas permukanaan laut, terdapat di sepanjang pantai. Luas daerah ini mencapai 708.435 ha atau 35,80%; (b) Bukit Range, daerah ini berada pada ketinggian 100-1000 meter di atas permuakaan laut. Terletak di sebelah Timur merupakan lereng pegunungan Bukit Barisan. Daerah ini di bagi menjadi dua kelompok yaitu derah dengan ketinggian antara 100-500 merer dan ketinggian antara 500-1000 meter. Luas daerah yang berada pada ketinggian 100-500 meter dari permukaan laut mencapai 625.323 ha atau 31,60%, sedangkan yang berada pada ketinggian antara 500-1000 meter dari permukaan laut luasnya mencapai 405.688 ha atau 20,50%; (c) daerah yang berada pada ketinggian 1000-2000 meterdi permukaan laut. Terletak lebih Timur dari jalur kedua sampai ke Puncak pegungan Bukit Barisan dan umumnya merupakan kegiatan vulkanis dan tektonis. Luas dearah pada ketnggai 1000-2000 meter dari permuakaan lautmencapai 239.924 ha atau 12,10%.

Berdasarkan topografi tersebut, wilayah permukiman mastarkat Bengkulu secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) masyarakat yang bermukiman di Daerah pesisir yagn merupakan low land. (2) masyarakat yang bermukim di daerah perbukitan/pegunungan. Masyarkat Bengkulu yang berada di daerah perbukitan/pegunungan, sebagian besar bermata pencaharian sebagai peladang atau pekebun dan seju8mlah kecil penduduk ada yang bekerja ditambang emas,yaitu di daerah Lebong Tandai-Ketahun dan sekitar Muara Aman.


Perlu untuk dipahami, jika membahas wilayah pesisir dibengkulu tidak harus selalu dipersepsikan pada jenis pekerjaan tertentu. Artinya jika membicarakan wilayah pesisir di Bengkulu tidak semata-mata harus dihubungkan dengan kegiatan nelayan (kelautan) saja. Pembagian wilayah pesisir dengan perbukitan/pegunungan di bengkulu didalam tulisan ini merupakan konsep kewilayahan. Wilayah pesisir dan laut merupakan tatanan ekosistem yang memiliki hubungan sangat erat dengan daerah lahan atas (upland), baik melalui aliran air sungai, air permukaan (run off) maupun air tanah (ground water) serta kegiatan manusia. Keterkaitan tesebut menyebabkan terbentuknya kompleksitas dan kerentanan diwilayah pesisir (sadeli, dkk, 2003). Masyarakat pesisir dibengkulu sebagian memang bermata pencaharian sebagai nelayan tetapi banyak juga penduduk desa diwilayah pesisir yang mata pencahariannya disektor pertanian dan perkebunan. Disamping itu, beberapa kota di propinsi bengkulu (seperti: kota muko-muko, bengkulu, manna dan kaur) memang terletak di pesisir, sebagai mana lazimnya masyarakat perkotaan yang telah mengalami berbagai diversifikasi pekerjaan, maka banyak penduduk di kota-kota tersebut yang bekerja disektor perdagangan, perindustrian, pemerintah, jasa konstruksi, transportasi dan lain sebagainya. Oleh karena itu, pengelolaan wilayah pesisir di Bengkulu membutuhkan kerja sama yang baik antar-stakeholder, baik yang berada diwilayah pesisir itu sendiri maupun yang berada didaerah perbukitan/pegunungan